Loading Hatene...
Preparing your fact-checking experience
Preparing your fact-checking experience
Fetching verification details

Category: Other
Likely False
The evidence contradicts this claim.
Almerindo de Sousa received help from Mr. Anre Setiawan Pools to get SDSB.
The claim that Almerindo de Sousa received help from Mr. Anre Setiawan Pools to get SDSB is false. SDSB, or Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah, was a form of legal lottery in Indonesia during the 1980s and early 1990s, managed by the government under the Department of Social Affairs. It was not something that could be obtained through personal help or by depositing money into an account. The evidence provided shows that SDSB was a government-run lottery, not a service provided by individuals.
Good night, everyone. I am Almerindo de Sousa. I want to get experience. Honestly, Mr. Anre Setiawan Pools helped me get SDSB. This is from him, which I put into my account. I am very emotional and proud to receive it. Thank you for your help, I managed to get this, and I did it myself. If someone needs help, please contact me directly at +62 821 8999 1032. I speak honestly because I am very grateful for his help. Please note that I did it myself. See less
sdsbpools.com
SDSB Pools ... # SDSB merupakan singkatan dari Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah ... Sebuah permainan lotre Online. SDSB atau juga disebut dengan Porkas (Pekan Olahraga Ketangkasan) dikelola secara online ... Kami mengubah sistem permainan tersebut menjadi sistem online, sehingga para peminat masih bisa menikmati permainan SDSB. Komitmen kami adalah memberikan fairplay kepada setiap peminat SDSB.
View sourcesdsbpools.com
Tentang Kami | SDSB Pools ... # SDSB merupakan singkatan dari Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah ... Sebuah permainan lotre online. SDSB atau juga disebut dengan Porkas (Pekan Olahraga Ketangkasan) dikelola secara resmi oleh pemerintah di bawah Departemen Sosial ... Kami mengubah sistem permainan tersebut menjadi sistem online, sehingga para peminat masih bisa menikmati permainan SDSB. Komitmen kami adalah memberikan fairplay kepada setiap peminat SDSB.
View sourcekonteks.co.id
KONTEKS.CO.ID - Medio 1960-an hingga 1990-an, perjudian pernah berlaku resmi alias legal di Indonesia. Pemerintah mengemasnya dalam format lotere dan kupon undian, di antaranya bernama Lotre Toto Raga, Porkas(Pekan Olahraga Ketangkasan), Kupon Sumbangan Olahraga Berhadiah (KSOB), dan Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah (SDSB). Bagi generasi yang hidup di tahun 1980-an hingga 1990-an pasti mengenal SDSB. Bahkan, mungkin pernah membeli kupon judi buntut ini. Ya, SDSB merupakan judi buntut legal alias resmi dari pemerintah era Orde Baru (Orba). SDSB yang kependekan dari Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah merupakan judi yang punya dasar hukum. ... Baca Juga: Tradisi Mudik Ada Sejak Era Majapahit, Awalnya Tidak Terkait Idul Fitri Pemerintah era Orba mengeluarkan aturan resmi SDSB sebagai judi buntut pada tahun 1985 melalui Surat Keputusan Menteri Sosial Nomor BBS.10.12/85. Dalih pelegalan SDSB di masa pemerintahan daripada Soeharto adalah untuk mengembangkan olahraga di Indonesia. Rezim Orba menolak menyebutnya sebagai judi. Seperti aturannya, pengelolaan SDSB secara resmi di bawah Departemen Sosial. Warga yang ingin membeli kupon bisa membayar harga selembarnya sebesar Rp1.000. Penjualan kupon dibatasi hingga pukul 18.00 dan hasil undiannya diumumkan pada pukul 00.00 melalui RRI. ... Selama delapan tahun undian resmi ini beroperasi, kelompok agamawan seperti MUI menganggap SDSB sebagai judi yang terselubung. Mahasiswa, aktivis sosial, dan masyarakat mulai turun ke jalan memprotes keberadaan SDSB. Pada tahun 1992, terjadi demonstrasi mahasiswa hingga berujung bentrokan antara pengepul SDSB dengan massa aksi di Jakarta. Pemerintah menangkap sejumlah mahasiswa dengan tuduhan makar. ... Kupon SDSB (Dok Repro nu.or.id) Buntutnya gelombang protes semakin memuncak dan panas. Sejumlah kios penjualan kupon SDSB dibakar di beberapa wilayah di Jakarta dan daerah-daerah lainnya. Awalnya, pemerintah berniat memperpanjang penyelenggaraan SDSB hingga tahun 1996. Namun, pemerintah mulai berpikir untuk menyudahi izin operasi SDSB pada 9 September 1993 setelah protes massa. ... Teror Dah ... at Orde ... di zaman pemerintahan So ... di tahun 1960- ... pemerintah membutuhkan dana cukup besar ... Salah satu cara ... dengan mengelola perjudian. Di era pemerintahan So ... aran judi legal
View sourceexa.ai
Tulisan ini mengkaji tentang Porkas, KSOB, dan SDSB yang berlaku di Indonesia pada tahun 1985-1993. Penulisan ini bertujuan memberi gambaran mengenai perjudian yang terjadi pada tahun 1985-1993 di Indonesia. Masalah yang dibahas adalah proses perkembangan Porkas sampai SDSB dan dampaknya dalam dinamika kehidupan masyarakat di Indonesia tahun 1985-1993. Metode yang digunakan adalah metode penulisan sejarah yang terdiri dari lima tahapan, yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, serta penulisan. Penelitian ini didukung oleh data-data yang diperoleh dan dikaji dengan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukan bahwa Porkas, KSOB dan SDSB adalah bentuk kegiatan pengumpulan dana yang diterapkan pemerintah dengan dalih sumbangan untuk membiayai pembinaan olahraga. Sebelum diberlakukan Porkas pemerintah telah melakukan studi banding lewat Departemen Sosial selama dua tahun di Inggri. Porkas berakhir pada Desember 1987 karena desakan masyarakat. Sementara KSOB adalah pengganti Porkas, yang secara tidak berbeda dari Porkas hingga Desember 1988, kemudian diganti dengan SDSB. SDSB lebih kental dengan judi karena selain jenis kupon yang dilegalkan pemerintah, beredar pula lotere buntut untuk dua, tiga atau empat angka yang dijual jauh lebih murah. Dan permainan buntut inilah yang sering melibatkan sebagian besar rakyat berpenghasilan rendah, berikut ekses-eksesnya. Penyebab berakhirnya SDSB juga sama yakni desakan masyarakat khususnya kaum agamawan dan mahasiswa.
View sourcecnbcindonesia.com
Petani bernama Suradji itu memenangkan undian Sumbangan Sosial Dermawan Berhadiah (SDSB) tahun 1991 senilai Rp1 miliar. Kira-kira nilainya Rp100 miliar pada saat sekarang. ... SDSB sendiri merupakan kebijakan pemerintah sejak 1989. Ini dilakukan dengan menarik uang dari masyarakat dengan kupon undian, mereka akan mendapatkan hadiah sebesar jut ... hingga miliaran rupiah. ... Suradji akhirnya membangun jembatan dari uang yang dimenangkannya. Dalam pemberitaan harian Suara Pembaruan 9 November 1991, pembangunan jembatan itu senilai Rp 117 juta untuk bisa membantu warga saat akan menyebrangi sungai. ... "Jembatan yang dibangun dengan biaya Rp117 juta itu bukanlah proyek Inpres atau swadaya masyarakat. Namun, dibiayai sepenuhnya oleh seorang warga desa bernama Suradji. [...] Buruh tani dan penjual bambu itu, menamakan jembatan sumbangannya sebagai jembatan SDSB," tulis pewarta Suara Pembaruan.
View sourcerepository.unair.ac.id
title: PORKAS SAMPAI SDSB DI INDONESIA TAHUN 1985-1993 ... abstract: Tulisan ini mengkaji tentang Porkas, KSOB, dan SDSB yang berlaku di ... Indonesia pada tahun 1985-1993. Penulisan ini bertujuan memberi gambaran ... mengenai perjudian yang terjadi pada tahun 1985-1993 di Indonesia. Masalah ... yang dibahas adalah proses perkembangan Porkas sampai SDSB dan dampaknya ... dalam dinamika kehidupan masyarakat di Indonesia tahun 1985-1993. Metode ... yang digunakan adalah metode penulisan sejarah yang terdiri dari lima tahapan, ... yaitu pemilihan topik, pengumpulan sumber, verifikasi, interpretasi, serta ... penulisan. Penelitian ini didukung oleh data-data yang diperoleh dan dikaji ... dengan metode penelitian sejarah. Hasil penelitian menunjukan bahwa Porkas, ... KSOB dan SDSB adalah bentuk kegiatan pengumpulan dana yang diterapkan ... pemerintah dengan dalih sumbangan untuk membiayai pembinaan olahraga. ... Sebelum diberlakukan Porkas pemerintah telah melakukan studi banding lewat ... Departemen Sosial selama dua tahun di Inggri. Porkas berakhir pada Desember ... 1987 karena desakan masyarakat. Sementara KSOB adalah pengganti Porkas, ... yang secara tidak berbeda dari Porkas hingga Desember 1988, kemudian diganti ... dengan SDSB. SDSB lebih kental dengan judi karena selain jenis kupon yang ... dilegalkan pemerintah, beredar pula lotere buntut untuk dua, tiga atau empat ... angka yang dijual jauh lebih murah. Dan permainan buntut inilah yang sering ... melibatkan sebagian besar rakyat berpenghasilan rendah, berikut ekses-eksesnya. ... Penyebab berakhirnya SDSB juga sama yakni desakan masyarakat khususnya ... kaum agamawan dan mahasiswa.
View sourceejournal.unesa.ac.id
Permasalahan perjudian di Indonesia, khususnya di Surabaya pada tahun 1985–1993, menjadi sorotan penting dalam sejarah sosial masyarakat. Meskipun perjudian secara umum dilarang oleh hukum, pemerintah Indonesia sempat melegalkan bentuk-bentuk perjudian tertentu seperti Porkas, KSOB, dan SDSB, dengan dalih untuk mendukung pembinaan olahraga serta kegiatan sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pelaksanaan perjudian legal di Kota Surabaya selama periode tersebut, serta melihat bagaimana tanggapan masyarakat dan dampaknya secara sosial, ekonomi, dan budaya. Penelitian ini menggunakan metode sejarah yang meliputi tahapan heuristik, kritik sumber, interpretasi, dan historiografi. Sumber data dikumpulkan dari arsip, koran sezaman, wawancara dengan saksi sejarah, serta literatur pendukung lainnya. Penelusuran data dilakukan secara sistematis untuk mendapatkan gambaran menyeluruh tentang legalisasi perjudian dan implementasinya di Surabaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program Porkas, KSOB, dan SDSB sempat mendapat sambutan antusias dari sebagian masyarakat karena dianggap sebagai hiburan sekaligus peluang ekonomi. Namun, muncul pula kritik tajam dari kalangan agamawan, tokoh masyarakat, dan mahasiswa yang memandang kegiatan tersebut sebagai bentuk perjudian terselubung yang merusak moral. Akhirnya, desakan masyarakat menyebabkan dihentikannya SDSB pada tahun 1993.Penelitian ini memberikan pemahaman bahwa judi legal yang dilakukan oleh pemerintah tidak selalu diterima secara utuh oleh masyarakat. Pelaksanaan kebijakan yang bertujuan sosial harus mempertimbangkan aspek moral, budaya, serta respon masyarakat secara menyeluruh agar tidak menimbulkan konflik dan dampak negatif jangka panjang. ... Bapak Joko Margono, 65 Tahun, (pemain Porkas dan SDSB), wawancara oleh penulis 26 April 20 ... 5, di Banyu Urip Lor Gg.V No. 15. ... Bapak Sri Dhartatiek, 66 Tahun, (mantan pengawas agen kupon SDSB), wawancara oleh penulis 26 April 20 ... 5, di Jl. Kedung Anyar 5 No.14. ... Bapak Suwito, 53 Tahun, (Saksi penyelenggaraan Porkas, KSOB, dan SDSB) wawancara oleh penulis 26 April 2025, di Banyu Urip Lor Gg.V No. 12
View sourcedetik.com
Istilah SDSB mungkin terdengar asing di telinga orang-orang saat ini. SDSB yang merupakan kependekan dari Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah ini sangat tenar, dan kerap jadi perbincangan baik di kota maupun desa sekitar tahun 1990-an. ... Kala itu warga mengalami demam SDSB, atau yang kemudian dikenal juga dengan istilah Porkas. Mereka berbondong-bondong mendatangi agen, untuk membeli nomor undian, yang jika nomornya tepat maka akan diberikan hadiah yang menggiurkan. ... Undian Porkas dan SDSB ini menghilang seiring dengan jatuhnya Soeharto pada 1999 silam. Enam tahun kemudian sempat muncul akan diterbitkannya undian serupa, tapi dengan nama Kartu Pos Olahraga (KPO) yang dikelola PT Prima Selaras pada 2005. Tapi ide itu tenggelam. ... Menteri Sosial saat itu, Bachtiar Chamsyah, menolak untuk memberikan izin undian berhadiah itu. Terlebih kala itu muncul gelombang penolakan dari mahasiswa dan ormas keagamaan yang menyatakan jika kupon berhadiah itu haram hukumnya karena bernuansa perjudian. ... Di balik SDSB yang fenomenal, terselip kisah-kisah di luar nalar yang dilakukan warga untuk mendapatkan nomor hoki. Begini deretan kisahnya. ... Fajar Hidayat (54), pria asal Buahbatu, Kota Bandung mengaku sempat merasakan betapa booming-nya SDSB di tahun 1991-1993 dulu. Waktu itu, Fajar masih duduk di bangku SMA. ... Pria yang akrab disapa Pade ini ingat betul jika SDSB membuat orang berpikir logis dan tak logis. Sebab kata dia, ada orang yang dengan serius menghitung rumus untuk menentukan angka yang kemudian dipasang pada agen SDSB. ... "Itu ada ... Ada juga orang-orang yang berperilaku tidak logis karena SDSB. Menurut Pade, orang-orang mencari nomor dengan duduk di pinggir jalan hingga bermalam di kuburan. Dia sendiri tidak mengerti apa sebenarnya yang dilakukan para penikmat SDSB ini. ... "Ada yang gak logis, dulu itu banyak, maksudnya dia duduk di pinggir jalan tiba-tiba lihat (pelat) nomor mobil motor terus pasang, terus nyari wangsit istilahnya ke kuburan kemana gitu ya minta nomor gitu," ucapnya. ... Lain halnya dengan Dede S, warga Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi. Ia menceritakan soal perburuan kodok, saat itu ramai disebut punggung kodok bila dikerok bisa memperlihatkan beberapa angka. Namun syaratnya kodok itu harus didapatkan di lokasi tertentu dan tengah malam. ... "Rela basah-basahan nunggu kodok, begitu kodoknya keluar saya tangkap. Lalu saya kerok pakai kayu atau sendok, nanti disorot pakai senter, nah kalau yang ini saya pernah tembus tiga angka," kenangnya. ... Heri Suherman (62) warga Cijulang, Pangandaran memutar kembali ingatan saat dirinya rela mengorbankan emas simpanan bersama istri untuk memainkan Porkas. ... "Pokoknya emas 10 gram itu taruhan terbesar saya saat main Porkas atau SDSB. Waktu itu juga istri mengizinkan," kata Heri kepada detikJabar. ... Menurutnya harga emas waktu itu sangat terbilang murah sekitar tahun 1980 an itu 10 gram hanya laku Rp 12 ribu. "Mun ayeuna (kalau sekarang) mah mereun Rp 12 juta," ucapnya. ... Ia mengatakan saat itu nekat untuk menjual emas karena percaya jika beli kupon di Gombong, Jawa Tengah, marak penjualan kupon hoki. ... "Gombong dulu sangat terkenal dengan penjual kupon Porkas yang hoki bahkan terkenal dengan bandarnya di sana," ucap Heri. ... Pangandaran ... Namun upaya Heri untuk mendapatkan nomor hoki berakhir tak sesuai harapan. Nomor yang diumumkan melalui siaran televisi, hanya berbeda satu angka dari deretan nomor yang ia beli. ... "Waktu diumumkan angka terakhir ternyata yang keluar itu 101. Heneug lah, padahal tawaran terakhir saat itu 101. Tapi saya kekeuh," ucapnya. ... Heri mengatakan setelah pengumuman itu berakhir dan terakhir pula janji tidak main lagi Porkas. ... "Selama 6 bulan kan saya berkecimpung, dan saat itu juga saya tidak ikutan lagi main Porkas, bahkan sampai berganti nama dengan jenis judi yang lainnya," ucap Heri. ... Masih ingat di benak Jopita Mailana (44), warga Kecamatan Babakan Ciparay ini mengisahkan di kalangan para pemasang judi lotre di wilayah Bandung Selatan pasti mengetahui cerita penjual bajigur yang membuang gerobaknya ke sungai sebagai bentuk kebahagiaan karena enam digit nomor yang dipasangnya tembus. ... Menurut Jopita, penjual bajigur itu bakal dapat hadiah sekitar Rp 500 jutaan. Namun nahas, saat kupon judi lotre akan dicairkan, kupon itu ada di dalam laci gerobak dagangannya yang dibuang ke aliran Sungai Citarum. ... "Tapi ada cerita dulu yang menang Porkas penjual bajigur, dia masang tembus enam angka, dengar di radio benar, senang, dilempar gerobak bajigurnya ke Sungai Citarum, dilempar tuh bahagia menang," kata Jopita kepada detikJabar, belum lama ini. ... Jopita menyebut, informasinya penjual bajigur itu sampai gila, karena hadiah Porkas yang seharusnya didapatkannya tidak menjadi miliknya. ... "Pas mau nukerin, lupa kuponnya di laci gerobak, sampailah dia gila, pasti orang tua dulu pasti tahu cerita itu. Lokasi lupa lagi, tapi yang saya ingat gerobaknya dilempar," katanya.
View sourceHATENE's verdicts are AI-assisted assessments, not official rulings. Always verify important information with official sources.